Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2015

Kayu Bakar Masih Digunakan Untuk Memasak


           SEMENDAWAI SUKU III-  Dibeberapa wilayah di Kabupaten OKUT, terutama yang berada di pelosok perdesaan, sejumlah warganya kembali menggunakan kayu bakar untuk keperluan sehari-hari. Salah satunya Yanto (50)  warga Desa Taraman Jaya, Kecamatan Semendawai Suku III yang mengunakan kayu bakar untuk memasak sehari-hari.

      Ia  mengaku, memasak dengan mengunakan kayu bakar lebih murah jika dibandingkan dengan mengunakan gas elpiji. Karena kayu bakar lebih mudah didapat di pedesaan.” Kami tidak mengalami kesulitan untuk mencari kayu bakar di desa,sebab masih banyak  pohon-pohon kayu kering di kebun kami,” katanya saat dibincangi wartawan.

     Meskipun  demikian, dia mengaku masih masih menggunakan kompor gas dari tabung berukuran tiga kilogram,tetapi untuk memasak yang cepat dan praktis saja.”Jadi selain masak dengan kayu bakar kami juga masih menyiapkan kompor gas untuk memasak yang penting-penting saja,” ujar  Yanto.

      Menurutnya, keputusannya untuk kembali menggunakan kayu bakar terpaksa dilakukan, karena merasa lebih mudah dan tidak banyak mengeluarkan uang.” Paling kita hanya beli minyak tanah untuk awal membakar kayu saja,” terangnya.

     Yanto berharap, harga gas ukuran 3 kilogram di wilayah pedesaaan juga sama dengan yang ada di wilayah Gumawang, kecamatan Belitang, sehingga masyarakat kembali mengunakan kompor gas untuk masak sehar-hari.” Kalau harga gas kembali normal, kami pasti kembali mengukan kompor gas,” ungkapnya.(fir)

Rabu, 06 Mei 2015

Sewakan Ruko Bisnis yang Menjanjikan


        BELITANG- Rumah toko (ruko) di sepanjang jalan Sudirman, Belitang BK 10 semakin lama semakin bertambah banyak. Karena itulah bisnis menyewakan ruko dinilai saat menjajikan saat ini. Hal ini terjadi karena perkembangan perekonomian di kawasan Belitang kian pesat, sehingga membuat investor memilih membangun ruko di wilayah tersebut.

       Saat ini, para pengusaha tidak ingin menyimpan uangnya di bank. Karena dengan menginvestasikan uangnya dengan membuat ruko atau membeli tanah akan lebih menjanjikan dari pada ditabung di Bank.

    Andi (45), salah seorang pengusaha di Belitang mengatakan, banyak alasan bagi pengusaha untuk menginvestasikan uangnya di Belitang.  Salah satunya dia menilai perkembangan perekonomian di Belitang kian menjanjikan, untuk saat ini dan kedepannya." Saya yakin perkembangan perekonomian di kawasan Belitang akan maju pesat. Karena ini saya tidak ragu-ragu menginvestasikan untuk pembangunan ruko," katanya saat dibincangi wartawan.

            Pesatnya perkembangan perekonomian di kawasan Belitang ini ditunjang dengan semakin sejaterahnya masyarakat yang berada di wilayah Belitang dan sekitarnya. Sebut saja misalnya para petani perkebunan karet dan padi yang setiap tahunnya semakin sejaterah." Dengan sejaterahnya para petani tersebut secara otomasi menambah geliat perkembangan bisnis ekonomi di Belitang kian menjanjikan, " jelas Andi.

          Jadi, tidak heran kalau saat iuni harga sewa ruko satu lantai di wilayah BK 10 seharga Rp 20 himgga Rp 35 juta pertahunnya. Oleh sebab itulah banyak pengusaha saat ini berlomba-lomba meginvestasikan dengan membuat ruko di sepanjang jalan dikawasan jalan Jenderal Sudirman. Karena pesatnya perekonomian di Belitang yang sangat mengiurkan." Saya optimis berwirausaha di Belitang ini akan menemukan kesuksesan," tandasnya (fir)




Selasa, 05 Mei 2015

Harga Murah, Petani Banyak Jual Kebun

 

      SEMENDAWAI SUKU III - Harga jual getah karet di wilayah kecamatan Semendawai Suku III terus menurun. Bahkan sekarang harga jual getah karet yang dua mingguan hanya Rp 7 ribu perkilonya, sedangkan yang mingguan hanya Rp 5 perkilonya.

       Akibat murahnya harga getah karet baik yang seminggu maupun yang dua mingguan, membuat para petani karet  kurang bergairah dalam melakukan aktivitasnya menyadap karet.” Dari hasil tersebut harus dibagi 3 dengan yang punya kebun, 2 untuk yang punya kebun dan 1 satu Kalau harganya murah, rasanya hasil getah yang kami sadap tidak ada nilainya, karena hasil bagian kami,” kata Masno (45) warga Taraman kecamatan Semedawai Suku III, Selasa (5/05) kemarin.

          Menurutnya ,  jatuhnya harga karet sangat menyusahkannya para petani karet di Kecamatan tersebut.  Karena penghasilan mereka  turun drastis, sedangkan biaya kebutuhan pokok sehari-hari masih tinggi.”  Murahnya harga karet membuat kami sudah mulai putus asa dan ada rencana untukmenjual kebun dan beralih propesi,” ujarnya.

       Senada juga diutarakan Ahmad (39), petani karet desa Karang Marga kecamatan Semendawai Suku III. Menurutnya, terpaksa dia mencari tambahan untuk menambah pendapatnya menjadi kuli bangunan setelah pulang dari nyadap karat.” Kalau tidak cari tambahan, utang kami di warung akan bertambah banyak,” pungkasnya.(fir)  

Kembalian Belanja Pakai Permen Semakin Marak


     BELITANG - Dengan alasan tak ada uang receh, seringkali uang kembalian konsumen diganti dengan permen. Praktik seperti ini sudah lama lazim dilakukan terutama oleh kasir di minimarket, pasar swalayan, hingga tukang es kaki lima. Padahal, cara ini melanggar hukum, dan pedagang yang melakukan itu bisa dipidana.

         Karena konsumen berhak menolak dan mempidanakan pedagang yang memaksa untuk menerima permen sebagai uang kembalian karena alat pembayaran yang sah adalah uang.” Kami sebenarnya sering kesal dengan apa yang sering dilakukan oleh pedangan tersebut,” kata Herman (37) salah sorang warga Kecamatan Belitang saat dibincangi wartawan Selasa (5/05) kemarin.


      Menurutnya, saat ini masih banyak ditemukan swalayan dan toko eceran mengembalikan uang receh dengan menggunakan permen, karena mereka beralasan tidak memiliki uang receh untuk memberi uang kembalian kepada konsumen." Konsumen  dirugikan karena tidak ada kata sepakat antara pedagang dengan pembeli, kecuali pengembalian uang receh mengunakan permen disepakati antarkedua belah pihak," ujarnya.
.
        Berdasarkan alasan pengusaha yang tidak memiliki uang receh untuk mengembalikan uang kembalian kosumen tersebut. " Apabila pengusaha tidak ada uang receh, misal kembalian uang Rp 50, pedagang bisa mengembalikan lebih misal Rp 100, atau meminta sukarela kepada konsumen untuk mendonasikan uang kembaliannya untuk kegiatan sosial," ujarnya.(fir)






Garap Sawah Pakai Traktor, Biaya Lebih Murah

         SEMENDAWAI SUKU III- Kebanyakan petani di kecamatan Semendawai Suku III, Kabupaten OKUT saat ini  membajak sawah sudah tidak lagi mengunakan tenaga kerbau atau mengunakan cangkul serta alat tradisional lainnya. Namun mereka sekarang sudah  mengunakan traktor agar proses penggemburan tanah sawah sebelum tanam cepat selesai dibandingkan secara tradisional menggunakan tenaga kerbau.


        Sugiarto (40 ) warga Desa  Taraman mengatakan, karena saat ini sudah ada alat yang lebih canggi dan bisa bekerja dengan cepat, yakni traktor. Dengan mengunakan alat tersebut biaya yang dikeluarkan pun relatif lebih murah jika dibandingkan  mengunakan tenaga kerbau." Kalau pakai kerbau atau sapi  biaya murah lebih lama, namun kalau mengunakan traktor kerjaan bisa lebih cepat selesainya ,” kata Sugiarto. 

      Menurutnya, mengunakan tenaga kerbau untuk areal sawah seluas 100 meter persegi,  bisa sampai dua hari, sedangkan dengan alat traktor tidak sampai seharian. Dengan mengunakan traktor proses pembajakan sawah lebih cepat, sehingga petani bisa segera menanam padi dan lebih cepat juga menikmati hasil panennya.“ Sebelum ada traktor saya masih pakai kerbau jadi agak lama,” jelas Sugiarto.

      Selain itu, dengan mengunakan traktor bisa lebih cepat dalam pengerjaannya, secara biaya lebih murah dibandingkan dengan mengunakan tenaga kerbau. Sugiarto menjelaskan, mahalnya biaya menggunakan tenaga kerbau di hitung biaya yang harus dikeluarkan petani untuk bekal selama bekerja di sawah seperti makan, minum dan rokok serta upah bagi buruh yang membantu proses pembajakan sawah.“ Biaya setiap harinya itu dikalikan, kalau misalnya untuk sehektar sawah bisa selesai kurang dari seminggu, sedangkan pakai traktor sehari juga beres cukup 20 liter solar, jadi biayanya lebih murah, cepat selesai lagi,” ujarnya.

Dikatakan, trakto saat ini memang sudah seharusnya digunakan oleh petani sehingga proses pembajakan lebih cepat, pengeluaran biaya lebih sedikit dan petani bisa secepatnya menanam padi kembali.“ Harapan para petani membajak sawah ingin menggunakan traktor biar cepat menikmati hasil panen,"pungkas Sugiarto.(fir)


Rabu, 29 April 2015

Duku Komering Dijual Rp 5 Ribu Perkilonya


      BELITANG- Sudah hampir seminggu ini Duku lokal dari Rasuan membanjiri pasar Gumawang, Kecamatan Belitang. Buah berwarna kuning yang rasanya sangat manis ini dihargai Rp 5 ribu perkilonya oleh para pedangang. Namun apabila ingin membeli banyak dengan harga murah para pembeli disarankan membeli langsung ke wilayah Rasuan.
     Aibun( 45) salah seorang penjual duku di pasar Gumawang mengatakan, duku yang mereka jual benar-benar duku asli komering. Jadi para pembeli tidak akan kecewa meskipun harganya Rp 5 ribu perkilonya.” Ini duku asli komering,kami jamin para pembeli tidak akan kecewa dengan rasanya,” katanya saat dibincangi wartawan Senin (30/3) kemarin.
    Menurutnya, saat ini duku Komering baru sekita seminggu kami jual, kemungkinan pada bulan April nanti harganya bisa lebih murah lagi, yakni 3 kilo bisa dijual dengan harga Rp 10 ribu.” Seperti duku Muara Dua kemarin, kami para pedagang menjualnya 3 kilo dengan harga Rp 10 ribu,” jelasnya.
      Sementara itu, Tina (32) salah seorang pembeli duku di pasar Gumawang mengaku puas dan tidak kecewa membeli duku komering, karena rasanya lebih masis dari duku Muara dua yang banyak dijual kemarin.” Saya raya denga kualitas dan rasanya, membeli duku komering dengan harga Rp 5 ribu perkilonya tidak rugi. Wajar kalau di Jakarta duku Komering bisa dijual dengan harga Rp 10 ribu perkilonya,” ungkapnya.(fir)

Minggu, 26 April 2015

Harga Jual Karet Kembali Turun


        SEMENDAWAI TIMUR - Harga jual getah karet di wilayah Kecamatan Semendawai Timur masih murah. Harga karet perkilonya kini menjadi Rp 7 ribu perkilonya. Padahal sebelumnya petani menjual pada tengkulak dengan harga Rp 7300 perkilonya.  Akibat penurunan harga yang cukup signifikan tersebut, membuat para petani karet  semakin kurang bergairah dalam melakukan aktivitasnya.
         Harga jual getah karet yang murah dari para tengkulak karet tidak ada yang tahu penyebabnya, kadang naik kadang pula turun. Setiap kali nimbang harganya tidak sama “ Kata para tengkulak, turunnya harga karet dimulai dari tingkat pabrik. Sehingga mereka juga tidak berani beli dengan harga tinggi,” kata Purwanto(45) salah seorang petani karet, desaTulung Harapan, Minggu (26/4).
      Menurutnya,  jatuhnya harga karet  sangat menyusahkannya para petani karet di Kecamatan tersebut.  Karena penghasilan mereka  turun drastis, sedangkan biaya kebutuhan pokok sehari-hari merangkak naik, akibat kenaikan BBM baru-baru ini.” Harga jual karet  murah, bahan-bahan pokok naik.Sehingga membuat pusing kepala,” ujarnya.
           Senada juga diutarakan Sukam (39), petani karet desa Tulung Harapan  lainnya. Dikatakannya, menurut informasinya harga jual getah karet yang sekarang Rp 7 akan terus turun,” Kalau harga karet sampai ajlok ke harga Rp 6500 perkilonya seperti beberapa waktu lalu, sudah dipastikan petani karet bertambah gelisah dan bertambah banyak warga yang merantau ke luar daerah,” tuturnya.(fir)

Kamis, 16 April 2015

Harga Jual Karet Terjun Bebas


SEMENDAWAI SUKU III- Harga jual getah karet di wilayah Kecamatan Semendawai Suku III  terjun bebas. Harga karet yang tadinya Rp 10 ribu perkilonya lalu turun menjadi Rp 7.200 dan kini menjadi Rp 7 ribu  perkilogramnya. Akibat penurunan harga yang cukup signifikan tersebut membuat para petani karet  kurang bergairah dalam melakukan aktivitasnya.
          Harga jual getah karet yang turun drastis dari para tengkulak karet tidak ada yang tahu penyebabnya. “Kata para tengkulak, turunnya harga karet dimulai dari tingkat pabrik. Sehingga mereka juga tidak berani beli dengan harga tinggi,” kata Wiyono  (45) salah seorang petani karet Desa Taraman, Kecamatan Semendawai Suku III.
          Menurutnya,  jatuhnya harga karet  sangat menyusahkannya para petani karet di kecamatan tersebut.  Karena penghasilan mereka  turun drastis, sedangkan biaya kebutuhan pokok sehari-hari merangkak naik.” Harga jual karet  murah, bahan-bahan pokok naik.Sehingga membuat pusing kepala,” ujarnya.
         Senada juga diutarakan Sutrisno (39), petani karet desa Karang Marga  lainnya. Dikatakannya, menurut informasinya harga jual getah karet yang sekarang Rp 7 ribu masih akan terus turun lagi,” Kalau harga karet sampai ajlok ke harga Rp 7 ribu  seperti beberapa waktu lalu, sudah dipastikan petani karet bertambah gelisah dibuatnya,” tuturnya.(fir)

Senin, 13 April 2015

Harga Getah Karet Rp Rp 7 Perkilonya


       SEMENDAWAI TIMUR- Harga jual getah karet di kecamatan Semendawai Timur hingga kini belum stabil, sehingga patani karet masih was-was apalagi tidak lama lagi pergantian tahun. Harga jual petani ke tengkulak untuk karet  yang dua minggu saat ini harganya  Rp. 7 ribu perkilonya.

      Mahmud(50), salah seorang petani karet Kecamatan Semendawai Timur mengatakan, dengan belum stabilnya harga jual getah karet membuat mereka harus memutar otak untuk mengatur keungan hasil menjual getah karet. Apalagi mereka rata-rata mempunyai tanggungan kreditan motor setiap bulannya yang harus dibayar. “Akibat harga karet murah banyak kreditan sepeda motor tetangga saya diambil Shoroom ataupun lesingan,” katanya. 

     Parahnya lagi, tidak hanya sepeda motor kreditan yang ditarik oleh showroom dan lesingan, tapi banyak juga warga yang mau jual kebun karet mereka karena terbelit hutang di Bank.” Kalau tidak segera dijual mereka takut kebun karet mereka juga akan disita oleh pihak Bank swasta, baik itu di wilayah kabupaten OKUT maupun yang di OKI,” terangnya.

      Selain harga karet belum stabil harganya, mereka juga sering kali menyadap karet pada waktu siang hari karena saat ini masih sering hujan, jadi pohon karet masih basah kalau pagi hari.” Karena nyadapnya siang hari, terpaksa kami tidak bisa cari kerja tambahan lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” terangnya.(fir)

Jumat, 10 April 2015

Mini Mart Menjamur di Wilayah Belitang


      BELITANG- Pasar Modern atau Mini mart semakin menjamur di wilayah Belitang dan sekitarnya. Hal ini membuktikan kawasan Belitang merupakan lahan untuk berinvestasi yang cukup menjanjikan bagi para pengusaha lokal maupun di luar Belitang.

     Terkait hal itulah, keberadaan Mini mart ini masih menjadi pro dan kontra dikalangan masyarakat. Karena banyak yang setuju dengan menjamurnya mini mart alasannya mereka mudah mendapatkan barang yang diingikan dengan belanja di Mini mart. Namun banyak juga yang kurang setuju dengan terus dibangunnya mini mart dengan alasan bisa membunuh pedagang kecil.

     Hadi (45) warga Belitang yang bekerja sebagai Salesman mengatakan, dirinya menyambut baik dengan banyaknya mini mart di wilayah Belitang,kareka dia dengan mudah mendapatkan apa saja yang dibutuhkan meskipun pada malam hari.” Kalau pasar tridisional kan sore hari sudah tutup,tapi kalau mini mart tutupnya hingga pukul 10.00 WIB,” katanya

   Selain itu, lanjut Hadi,dengan menjamurnya mini mart di kawasan Belitang dan sekitarnya juga bisa menyerap tenaga kerja yang lulusan SMA maupun yang sambil kuliah,karena mereka kerja mengunakan shif.” Setahu saya setiap toko mini mart bisa mempekerjakan 10 hingga 15 orang karyawan,tergantung tingkat keramaian mini mart tersebut,” ujarnya.

     Sementara Ema( 50) warga Belitang yang sehari-harinya berjualan di pasar Gumawang mengatakan,dengan maraknya mini mart di Belitang dirinya khawatir akan membunuh pasar tradisional.” Kalau terus menjamur seperti ini bisa-bisa banyak pedagang yang gulung tikar,” tuturnya

    Karena itu Ema berharap, pemerintah daerah bisa memperketat perizinan mini mart di Belitang khususnya wilayah Gumawang.” Saat ini mini mart di Belitang sudah banyak bangat, kalau izinnya tidak diperketat, saya khawatir pasar tradisional tidak laku lagi dan mereka akan bangkrut,”tegasnya.(fir)

Kamis, 09 April 2015

Pelaku Usaha Kian Banyak, Tapi Daya Beli Kurang


     BELITANG- Dampak murahnya harga karet, belum panennya padi petani  dan kaburnya bos CV Indotronik Belitang, Arbertur Primadani Irawan dengan membawa Rp 4,6 trilyun uang nasabah pada Agustus 2013 lalu membuat perekonomian di kawasan Belitang cukup terkuncang. Bahkan hingga saat ini roda perekaonomian masih lesu daya beli masyarakat pun berkurang.

      Namun, anehnya meskipun perekonomian sedang lesu di kawasan Belitang, para pelaku usaha kini bertambah banyak terutama mereka yang berjualan makanan pada malam hari.”Mereka yang baru berjualan karena ingin mencari penghasilan tambahan dengan berjualan makanan.” kata Eva (45) warga Desa Gumawang, kecamatan Belitang saat dibincangi wartawan.

       Menurutnya, sebelum adanya kasus Indotronik penjual makanan di kawasan Belitang memang sudah ada tapi tidak sebanyak seperti sekarang ini.” Saat ini bisa dibilang semua makanan ada di Belitang pada malam hari, mulai makan ringan seperti gorengan sampai makanan berat seperti pecel lele.”ujarnya.

      Bahkan, ada juga yang berjualan makanan di wilayah Belitang tersebut nasabah Indotronik yang mana bosnya hingga kini belum juga diketahui keberadaannya.” Setahu saya sih ada beberapa orang para pelaku bisnis makanan tersebut tadinya nasabah Indotronik, yang buka usaha setelah CV Indotronik tutup,” ungkapnya.(fir)       









Rabu, 08 April 2015

Duku Komering Banjiri Pasar Gumawang


     BELITANG- Sudah hampir sebulan  ini Duku lokal baik dari Rasuan maupun duku dari Betung membanjiri pasar Gumawang, Kecamatan Belitang. Buah berwarna kuning yang rasanya sangat manis ini dihargai Rp 5 ribu perkilonya oleh para pedangang.  Bahkan banyak juga pedagang menjual dengan 3 kilo Rp 10 ribu.
     Aibun( 45) salah seorang penjual duku di pasar Gumawang mengatakan, duku yang mereka jual benar-benar duku  komering asal Rasuan. Jadi para pembeli tidak akan kecewa meskipun harganya Rp 5 ribu perkilonya.” Ini duku asli komering, kami jamin para pembeli tidak akan kecewa dengan rasanya,” katanya saat dibincangi wartawan.
    Menurutnya, saat ini duku Komering sudah sebulan lebih kami jual di Belitang ini, jadi  kemungkinan pada akhir bulan April atau awal bulan Mei nanti harganya bisa lebih murah lagi, yakni 4 kilo bisa dijual dengan harga Rp 10 ribu.” Karena sudah musim penghujun, jadi matengnya bebarangan,” ujarnya.
       Sementara itu, Soleh(32) salah seorang pembeli duku di pasar Gumawang mengaku puas dan tidak kecewa membeli duku komering asal Rasuan, karena rasanya lebih manis dari duku Muara dua.” Walaupun membeli dengan harga Rp 5 ribu perkilonya saya tidak kecewa, karena rasanya memang manis bangat,” ungkapnya.(fir)      

Petani Mulai Panen, Harga Gabah Masih Murah


      SEMENDAWAI -Warga desa Karang Melati, Kecamatan Semendawai Timur sudah seminggu ini mulai panen pada musim tanam keduanya. Namun walaupun hasil panennya cukup berlimpah tidak membuat seratus persen petani merasa gembira. Sebab masih ada satu hal yang masih menganjal dihati mereka, yakni harga jual gabah yang mereka jual kepada para tengkulak di desanya masih reatif rendah yaitu Rp. 3.200 hingga Rp. 3.300 perkilonya.

        Widodo(40), salah seorang warga desa Taraman mengatakan, harga yang dipatok oleh para Tengkulak tersebut dirasakan mereka sangat murah, karena harga beras di pasar saja saat ini masih berkisar harga Rp. 7.500 hingga Rp. 8.000 perkilonya.” Harga yang diberikan oleh para Tengkulak kepada kami para petani terlalu murah, sehingga kami meresa dirugikan,” katanya saat dibincangi wartawan.

          Meskipun para petani merasa harga jual gabah murah, tetapi mereka tetap saja menjual kepada para tengkulak. Karena para petani masih kebinggungan mau jual kemana kalau tidak menjual kepada para tengkulak tersebut.” Kami masih jual pada mereka pak, sebab kita tahunya hanya sama mereka untuk menjual gabah hasil panen kami,” ujar Widodo.

       Sedangkan Ratno(35), petani desa Taraman lainya mengatakan, dirinya setiap kali panen selalu pulang modal, kalau dihitung  modal tanam dan pemupukan dengan harga jual gabah.” Kalau harga jual terus bertahan kisaran itu, kalau dihitung-hitung gabah yang saya jual dengan modal tanam hampir seimbang,” terangnya.(fir)

Senin, 06 April 2015

Sebelum Panen Padi petani Rebah



         BELITANG MULYA-  Hujan yang disertai angin kencang berapa hari belakangan ini  memuat  padi petani di Kecamatan Belitang Mulya banyak yang rebah. Sehingga padi yang rebah tersebut tentu saja membuat patani akan kesulitan saat memanennya nanti.
     Pemantauan di desa Purwodadi Senin (6/04) kemarin, padi petani yang rebah tersebut masih dibiarkan, belum ada satu pun petani yang mengikat padi yang rebah tersebut.” Rencana kami padi yang rebah tersebut akan kami ikat supaya mudah saat memanennya nanti. Namun, senjaga kami biarkan dulu karena padinya belum menguning semua,” kata Rahmad (35) salah satu petani warga desa Purwodadi.
       Menurutnya, setiap kali akan panen, pasti ada saja padi mereka yang rebah karena tiupan angin yang kencang. Bahkan pernah sampai seperampat hektar sawah padinya rebah.” Kalau sudah begitu terpaksa kami mengikat padi yang rebah tersebut supaya mudah dipanennya,” ujarnya.
       Hal yang sama dikatakan Oleh Sukono (30) salah seorang warga desa Purwodadi lainnya. Menurutnya, sudah menjadi langganan padi rebah setiap akan dipanen, sehingga menambah sedilit pekerjaan bagi petani, karena harus diikat dulu baru dipanen.” Kalau tidak diikat kami akan kesulitan untuk memanen padi yang sudah menguning,” ungkapnya.(fir) 

Minggu, 05 April 2015

Akibat Alih Fungsi Lahan, Petani Beli Beras Saat Panen


          SEMENDAWAI TIMUR- Karena mengalihfungsikan lahan sawah menjadi perkebunan karet membuat mayoritas penduduk desa Harapan Jaya,kecamatan Semendawai Timur saat ini membeli beras untuk makan sehari-harinya. Ini terpaksa mereka lakukan lantaran lahan mereka sudah tidak ditanami padi lagi karena ditanami karet.

       Suprat (45) salah seorang warga desa Harapan Jaya mengatakan,sudah tiga tahun ini keluarga membeli beras untuk makan sehari-harinya ke pabrik,karena mereka sudah tidak punya sawah lagi.”Sebelumnya kami punya sawah sehektar,tapi lahannya sudah kami tanami pohon karet,”katanya  Minggu (5/04) kemarin.

         Menurutnya, saat ini  dirinya mengantungkan hidupnya untuk sementara menjadi buru sadap, dengan menyadap karet milik tetangganya yang lebih dahulu menanam karet.”Abis mau gimana lagi,lahan sawah saya kan sudah dialihfungsikan untuk menanam kareat,kalau saya tidak kerja sama orang gimana mau dapat duit untuk beli beras,”ujar Suprat.

        Senada juga diungkapkan oleh Abdullah (38) warga desa Harapan Jaya lainnya. Menurutnya,meskipun harus menunggu lama, namun dirinya yakin kedepan hidup keluarganya akan sejaterah dengan berkebun karet.” Kalau tidak saya sendiri yang mau berubah, tidak mungkin hidup kami bisa beruba menjadi sejaterah. Selama ini sudah bertahun-tahun keluarga kami mengantungkan hidup dari bertani padi,tapi hanya cukup buat makan saja,” terangnya.

        Dikatanya, dengan mengalihfungsikan lahan sawah mereka menjadi perkebunan karet,merupakan langka positif yang mereka lakukan. Meskipun akhirnya saat ini warga desa tersebut harus membeli beras untuk makan sehari-harinya.”Bagi kami saat ini lebih baik membeli beras dari pada menanam padi. Karena dari hasil penjual getah karet lebah banyak dari pada penjual gabah pada saat panen,”tukas Abdullah.(fir)