Selasa, 05 Mei 2015

Pamplet dan Poster Di Pohon Rusak keindahan


       BELITANG- Sejumlah poster bakal calon bupati dan pamflet iklan milih showroom motor maupun finance masih banyak bertengger di sejumlah pohon sawit di sepanjang jalar provinsi di wilayah Kecamatan Belitang. Hal tersebut selain merusak keindahan kota juga merusak pohon-pohon karena pemasangan dipaku oleh para pemasang.

       Pantauan di lapangan kemarin,keberadaan poster dan pamflet tersebut seperti sudah menjamur karena dipasang tidak ada pihak yang melarang para pemansang iklan liar ini.” Ini belum seberapa pak, lebih para lagi kalau musim kapanye pemilu kepala daerah baik bupati,” kata Purwanto (40) warga desa Gumawang, Kecamatan Belitang.


    Menurut Purwanto, banyaknya pemasangan poster bakal calon bupati dan pamflet yang tidak beraturan tersebut membuat tampilan wilayah Belitang sepertikurang tertata. ‘’Sebagai warga yang peduli saya menyayangkan hal tersebut. Pertama, jika pemasangan baliho, reklame tidak tertata dan tidak digarap dengan baik akan berserakan. Dari segi lingkungan tentu sangat tidak bagus sekali, masa pohon dijadikan tempat bergelantungan iklan,’’ ujarnya.

      Untuk itu dia juga berharap, hal tersebut bisa segera ditertibkan. Kemudian bagi yang mempunyai kepentingan agar tidak memasang di pohon dan membuat tempat pemasangan sendiri atau di koran.” Kalau ada tamu dari luar daerah, kita menjadi malu karena wilayah kita  seperti rumah berserakan, macam kampung besar dan tidak tertata sama sekali. Padahal ada peraturannya, bahwa sepanjang jalur hijau tidak boleh seperti itu,’’ tuturnya.(fir)

Garap Sawah Pakai Traktor, Biaya Lebih Murah

         SEMENDAWAI SUKU III- Kebanyakan petani di kecamatan Semendawai Suku III, Kabupaten OKUT saat ini  membajak sawah sudah tidak lagi mengunakan tenaga kerbau atau mengunakan cangkul serta alat tradisional lainnya. Namun mereka sekarang sudah  mengunakan traktor agar proses penggemburan tanah sawah sebelum tanam cepat selesai dibandingkan secara tradisional menggunakan tenaga kerbau.


        Sugiarto (40 ) warga Desa  Taraman mengatakan, karena saat ini sudah ada alat yang lebih canggi dan bisa bekerja dengan cepat, yakni traktor. Dengan mengunakan alat tersebut biaya yang dikeluarkan pun relatif lebih murah jika dibandingkan  mengunakan tenaga kerbau." Kalau pakai kerbau atau sapi  biaya murah lebih lama, namun kalau mengunakan traktor kerjaan bisa lebih cepat selesainya ,” kata Sugiarto. 

      Menurutnya, mengunakan tenaga kerbau untuk areal sawah seluas 100 meter persegi,  bisa sampai dua hari, sedangkan dengan alat traktor tidak sampai seharian. Dengan mengunakan traktor proses pembajakan sawah lebih cepat, sehingga petani bisa segera menanam padi dan lebih cepat juga menikmati hasil panennya.“ Sebelum ada traktor saya masih pakai kerbau jadi agak lama,” jelas Sugiarto.

      Selain itu, dengan mengunakan traktor bisa lebih cepat dalam pengerjaannya, secara biaya lebih murah dibandingkan dengan mengunakan tenaga kerbau. Sugiarto menjelaskan, mahalnya biaya menggunakan tenaga kerbau di hitung biaya yang harus dikeluarkan petani untuk bekal selama bekerja di sawah seperti makan, minum dan rokok serta upah bagi buruh yang membantu proses pembajakan sawah.“ Biaya setiap harinya itu dikalikan, kalau misalnya untuk sehektar sawah bisa selesai kurang dari seminggu, sedangkan pakai traktor sehari juga beres cukup 20 liter solar, jadi biayanya lebih murah, cepat selesai lagi,” ujarnya.

Dikatakan, trakto saat ini memang sudah seharusnya digunakan oleh petani sehingga proses pembajakan lebih cepat, pengeluaran biaya lebih sedikit dan petani bisa secepatnya menanam padi kembali.“ Harapan para petani membajak sawah ingin menggunakan traktor biar cepat menikmati hasil panen,"pungkas Sugiarto.(fir)


Gorong-Gorong Jalan Poros Margo Mulyo Jebol


     BELITANG II- Gorong-gorong yang berada jalan poros di desa Margo Mulyo, Kecamatan Belitang II sudah hampir setahun dibiarkan jebol. Padahal jalan poros tempat jebolnya gorong-gorong tersebut satu-satnya akses yang selalu dilewati kendaraan truk untk mengangkut hasil bumi warga , salah satunya getah karet.
     Kepala Desa (Kades) Margo Mulyo Sarjono mengatakan sejak jebolnya gorong-gorong  warga memasang kayu kelapa supaya kendaraan bisa melintas secara darurat. Tapi ternyata perbaikan sementara tersebut sudah hampir setahun dan saat ini kayu kelapanya pun sudah mulai rapuh karena termakan usia.
      “ Jadi selaku Kades saya mewakil warga desa Margo Mulyo mengharapkan supaya dinas PU Bina Marga OKUT untuk segera memperbaiki gorong-gorong yang berada di jalan poros di desa Margo Mulyo. Kerena ini menjadi akses satu-satunya yang harus dilewati untuk mengeluarkan hasil bumi,” katanya saat dibincangi wartawan Jumat (1/05) kemarin.
      Menurut Sarjono, gorong-gorong tersebut memang sangat layak untuk dibangun, karena gorong-gorong tersebut dulu dibangun tahun 1982 presidennya masih Soeharto.” Kalau dilihat dari pecahan gorong-gorong ini, dulunya saat dibangun tidak megunakan besi cor dan hanya susunan batu bata dan semen saja,” ungkapnya.(fir)

Spanduk dan Baliho Liar di Jalan Raya Mulai Marak Lagi


       BELITANG- Spanduk liar alias ilegal semakin marak saja di kawasan Belitang,baik yang melintang di jalan raya provinsi maupun di jalan-jalan kabupaten. Dengan maraknya spanduk liar ini selain mengganggu penguna jalan juga membuat pemandangan di lingkungan tersebut kurang indah,serta tidak adanya pemasukan buat kas daerah.
       Pemantauan di lapangan, tidak hanya  spanduk penerimaan siswa baru tapi juga spanduk iklan rokok dan bakal calon Bupati semakin banyak. Sementara pihak terkait terkesan hanya tutup mata melihat permasalahan seperti ini,sehingga terkesan terus berlarut-larut.” Pemandangan seperti ini sudah terjadi dari tahun ke tahun di wilayah Beliatang,” kata Yudi (45) warga Bedilan, Kecamatan Belitang Jumat (1/05) kemarin.
     Menurut Yudi,dengan kian maraknya spanduk liar ini membuat kawasan Belitang terkesan awut-awutan dan tidak tertata dengan baik,dan lingkungan pun terkesan kumuh.” Apalagi melihat pemandangan di kawasan Belitang waktu pagi hari,selain maraknya spanduk liar juga banyaknya kendaraan parkir sembarangan,”ujarnya.
        Selaku warga biasa Yudi hanya bisa berharap,ini bisa dijadikan perhatian pemerintah kedepan,karena kalau spanduk liar tersebut dipasang pada tempat yang semestinya bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) pemerintah setempat.” Karena spanduk seperti produk rokok merek ternama mempunyai anggaran untuk mempromosikan produknya,” tukasnya (fir)

Luapan Air Irigasi Salah satu Penyebab Rusaknya Jalan Poros


       SEMENDAWAI SUKU III-  Luapan air dari Irigasi diduga salah satu penyebab jalan poros di wilayah desa Taraman Jaya, Kecamatan Semendawai Suku III rusak, seperti halnya yang terjadi persis di depan Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Taraman. Tamapk aspal di jalan poros tersebut sudah banyak yang mengelupas karena sering digenangi air luapan dari Irigasi.
        Pemantauan di lapangan Jumat (1/05) kemarin, salah satu penyebab seringnya air Irigasi meluap karena banyaknya sampah yang ada di saluran tersebut, sehingga air mengenangi jalan poros.” Setiap kali hujan volume air di saluran Irigasi di wilayah desa Taraman Jaya dan sampah menghalangi air yang mengalir, sehingga mengenangi jalan poros,” kata Sapin (40) salah seorang warga Taraman Jaya.
       Menurutnya, akibat itulah aspal di wilayah ini banyak yang mengelupas, sehingga sekarang hanya terlihat batu-batu saja yang ada di jalan poros di depan SD tersebut.” Jangankan aspal, batu karang pun kalau terendam air terus juga akan rusak,” ujarnya.
       Oleh karena itu, pemerintah kecamatan maupun pemerintahan desa seharusnya sering memperhatikan kondisi tersebut, kalau terus dibiarkan jalan poros akan semakin rusak.” Ya paling tidak di saluran Irigasi tersebut jangan banyak sampah supaya air yang mengalir tidak terhalang oleh tumpukan sampah,” ungkap Sapin.(fir)